Karya KLJ by ALI

judule : mesjid mmmbbengkong…!!!!

judule : Palsu

Judule: Fender

Leave a comment »

Gantung Diri (Fotogram)

DSC_00172

KARYA : BAHRUR “Keset” ROHIM

Leave a comment »

VIEW BACK OF UIN MALIKI

belakang 72

Karya: ALI “KUPRET”

Leave a comment »

SENI KEINDAHAN FOTOGRAFI HITAM PUTIH (1)

Mungkin banyak yang bertanya tanya, apalagi sih yang perlu dipelajari dari Foto B&W ?

Pertama sudah kuno.

Tidak banyak lagi studio yang mau memproses B&W.

Biayanya tidak murah dibanding dengan Foto berwarna, apa lagi jika dibanding dengan foto digital.

Serta prosesnya ribet basah lagi.

Banyak para penggemar foto yang ragu akan keindahan foto B&W karena kurang mendalami dan menjiwai betapa indahnya Karya seni foto B&W, selian itu karena sang pelaku atau fotografer sering timbul keraguan akan keberhasilannya. Karena ketidak berhasilannya dalam merekam Obyek yang benar, intinya tidak tahu persis bagai mana sebenarnya atau sebaiknya memotret Obyek itu. Keraguan memilih data yang akan digunakan untuk memotret obyek.

Foto B&W, yang lahir sejak akir abad 19, oleh meraka yang ingin menyederhanakan tehnik cetak untuk pembuatan surat kabar yang diawali dengan tehnik mencetak Obyek dengan membuat stempel yang benar benar mengukir secara manual, berkembang selanjutnya dengan menyusun abjad dan membubuhi gambar grafis dari hasil ukiran tangan dari Obyek yang dijadikan pokok berita,  berkembang selanjutnya menjadi tehnik grafis secara kimia untuk Obyeknya dan tehnik mekanik otomatis untuk menyusun abjadnya sampai pada akirnya proses mencetak seluruhnya dipercayakan pada tehnik fotografi, semua dari perkembangan tehnologi yang ada pada waktu itu. Dan yang paling baru tehnik cetak menjadi tehnik On line yang dapat dikirim via Satelit dengan menggunakan HP, dan Notebook serta dipersenjatainya para Wartawan oleh sebuah Kamera digital serta diktaphon yang digital dimana yang dulu untuk merekam suara atau komentar harus menggunakan Tape Cassete, yang sekarang ini tape Casset tersebut berubah bentuknya hanya sebesar Flashdisk. Dunia Journalistik yang makin canggih dan praktis, cukup seluruh alat yang mereka butuhkan ada didalam tas sebesar Map. Jadi sekarang kita berada pada jaman Era Informatika, Tapi anehnya, justru Foto B&W kok masih juga banyak penggemarnya. Ini merupakan sebuah fenomena bahwa Seni tidak akan tergusur oleh perkembangan jaman maupun tehnologi.

Foto B&W, membutuhkan penguasaan tehnik yang ditawarkan oleh perkembangan Kamera itu sendiri, serta perkembangan lainnya yang menuntut kita untuk mengetahui dan menguasai Karakter media rekam seperti film serta dibutuhkan keahlian dalam menguasai tehnik cetak mencetak di Kamar gelap. Tanpa menguasai ketiga unsur tadi kita tidak akan dapat menciptakan Karya Seni foto yang dapat kita banggakan. Atau karya Seni foto dan cetak yang Briliant.

Foto B&W, yang perlu kita kuasai selain penguasaannya tehnik pada Kamera adalah;

Pengenalan Obyek itu apa sebenarnya ? [ faktor ekstern ].

OBYEK.

Obyek adalah suatu sasaran pilihan yang menurut kita sasaran tersebut jika kita foto dapat membuahkan karya cipta seni fotografi yang paling Optimal menurut perencanaan kita.

Kita perlu memilih Obyek yang akan kita foto terutama untuk mereka yang ingin mengeksploitasi Obyek secara Optimal sebagai sebuah Karya cipta seni foto yang penuh kesabaran dan ketelitian, Untuk penganut foto jurnalistik “ kesuwen engko ketinggalan momen “. Itu memang benar, jadi kedua aliran ini sangat berlawanan. Tapi keduanya dapat dipersiapkan secara mendasar sama.

Obyek merupakan hasil pilihan yang segala datanya masih buta dan masih liar, setelah kita menginginkan Obyek itu untuk difoto, maka data itu dapat kita lacak dengan menggunakan Lightmeter tangan [ handheld lightmeter ] atau Lightmeter Kamera. Fungsi dan cara kerjanya keduanya sama hanya tehnik pemakaiannya sangat berbeda. Untuk Lightmeter handheld jelas sekali kita dapat arahkan kesegala sektor atau motif obyek yang kita inginkan untuk diukur atau diketahui datanya, serta mobil. Sedangankan Lightmeter yang dibangun dalam Kamera, kepraktisan memang benar hanya keluesan kurang, karena biasanya sang fotografer sudah malas untuk mendekat pada Obyek, dan mereka sangat percaya bahwa Lightmeternya sangat canggih. Maka kesalahan untuk memotret dapat ia tepis, apalagi keraguan akan pilihan data yang direspon oleh LM. Nah inilah yang banyak mengecoh dan menjebak kita atas lahirnya kesalahan yang fatal. Alasannya LM hanya akan mengukur besarnya Intensitas cahaya secara global dan merata ratakan hasil pengindraanya.

Selama kita hanya menebak kekontrasan Obyek, seperti paradigma lama kekontrasnya itu hanya kira kira menurut perasaan dan pengelihatan indra mata tanpa ada satu standart yang yang jelas dan bisa dijadikan patokan. dan selanjutnya biasanya sang Fotografer menggunakan Lightmeter secara simultan ketika Kamera diarahkan pada Obyek, karena saking percayanya bahwa kameranya cukup canggih, maka segala data yang ditunjukan keluar dari respon Kamera dianggap 100% benar, Ini sumber awal dari kesalahan.

Kekontrasan sebuah Obyek tidak bisa hanya ditebak, kita harus mengetahuinya secara eksak dan benar dengan cara menggunakan Lightmeter baik itu Handheld atau yang ada dalam Kamera.

Untuk mengukur kekontrasan Obyek kita harus memodifikasi LM yang kita pakai menjadi LM Zona.

Kekontrasan, merupakan perbedaan harga Intensitas cahaya yang dibangun dari motif Obyek bayangan [ bertextur, atau texturnya masih dapat kita kenali ] hingga harga Intensitas cahaya dari motif Obyek terang [ bertextur, atau texturnya masih dapat kita kenali ], jadi singkatnya harga Intensitas cahaya bayangan hingga Intensitas cahaya terang. Jadi Kekontrasan merupakan sebuah besaran yang linear.

Cara mengukurnya demikian;

Arahkan LM anda kearah motif bayangan, untuk LM handheld langsung kita dekatkan pada motif Obyek pilihan kita, untuk yang LM nya ada didalam Kamera mau tidak mau juga demikian kita harus mendekatkan Kamera kita pada motif Obyek.

Kalau LM Handheld setelah kita On kan kita dapat membaca langsung reaksi LM terhadap Obyek, juga yang ada pada Kamera. Dengan kebiasaan kita LM Kamera harus kita setimbangkan LED nya menjadi O atau LED hijau, maka demikian pula LM Handheld, kita harus Enolkan, kecuali untuk LM yang digital tidak perlu.

Setelah LM Handheld atau yang ada di Kamera sudah kita posisikan di O, maka ini artinya LM telah melacak Motif Obyek arahan sebagai Obyek yang Zona nya ada ditengah tengah [ tentang Zona kita terangkan dibawah ] atau LM menganggapnya sebagai Obyek tengahan. Tapi tolong diingat ingat ! kan kita ingin melacak motif Obyek bayangan bukan Obyek tengahan ? inilah kesalahan membaca pertama kali yang kita kenal. Caranya bagai mana, untuk supaya cara kita melacak membuahkan data LM secara benar [ ikuti saja dulu nanti akan lebih jelas setelah anda mengenal tentang Zona ]

Secara Intuisi bahwa data LM tidak menunjukan data yang benar yang kita inginkan. Supaya LM memberikan data yang benar kita harus menyetel atau menggeser kedudukan O menjadi kedudukan di – 2 stop. Diposisi inilah yang sebenarnya posisi yang dimiliki oleh Zona bayangan yaitu Zona III sedangan Zona tengah adalah Zona V menurut susunan deretan Zona NORMAL dan standart. Setelah anda geser posisinya menjadi – 2 stop maka dari posisi perubahan inilah seluruh data motif bayangan anda dapatkan secara Eksak. Pada posisi inilah kombinasi antara data f. dan t. menunjukan data yang benar milik motif bayangan bertextur.

Daro titik Zona III kita belum melakukan pelacakan kekontrasan Obyek, data disini tidak dapat kita pakai untuk data memotret. Kita masih perlu melacak Kekontrasan Obyek terlebih dahulu.

Berawal dari Zona III, sekarang kita mengarahkan LM pada motif Obyek terang bertextur. LM akan bereaksi terutama yang ada pada Kamera, kita amati bagaimana pergerakan LED ? apakah bergerak melebihi LED O [ hijau ] atau tidak ? kalau kamera anda masih semi digital LM nya maka disitu akan ditunjukan sebagai nyala LED yang kita masih belum jelas keberadaannya, tapi kalau menggunakan jarum malah akan jelas pergerakan itu. Dan yang lebih jelas kalau menggunakan LED cair, biasanya ditunjukan segera angka angka hasilnya.

Kalau semi atau yang masih konfensional LM nya kita perlu menghitung berapa stop dari posisi O [ hijau ]. Dari lacakan ini kita mengetahui berapa besar Kekontrasan Obyek.

Kekontrasan Obyek lebih jelas jika saya ganti istilahnya menjadi RENTANG KONTRAS OBYEK, dengan segera asosiasi anda pada harga Kekontrasan Linear. Sebuah besaran linear merupakan sebuah besaran grafis yang panjangnya tertentu menurut hasil penganalisaan kita terhadap Obyek.

Jadi Kekontrasan merupakan ;

Perbedaan yang dimulai dari Motif Obyek bayangan hingga motif Obyek Terang yang besarnya nyata.

Rentang Kontras Obyek mempunyai sebuah harga, dimulai dari posisi Zona III [ lihat data f. di ring f yang ada di Obyektif ] harga f. merupakan data Zona III. Setelah LM anda alihkan ke motif Obyek terang, dan LM merespon dengan gerakan jarum atau perubahan LED, besarnya ini dapat kita lihat dalam bentuk perubahan f. stop. Atau disingkat yang lebih universal lagi, STOP saja. Perubahan stop dari Zona III hingga sampai Zona perjalanan titik akir jarum atau LED [ hijau ].

Rentang Kontras Obyek ini secara grafis bisa kita gantikan dengan susunan Stop yang dimulai dari Zona III. Nah perubahan Stop inilah yang akan menentukan bisa enggaknya Obyek difoto secara OPTIMAL.

Rentang Kontras Obyek ini yang akan menentukan apakah Film sanggup merekamnya secara sempurna [ saya katakan demikian, dapat merekam secara sempurna, karena film mempunyai kemampuan daya rekam ].

Kalau film mempunyai kemampuan daya rekam, maka ini merupakan sifat dasar, yang sering disebutkan sebagai Karakter Film [ Sensitometri film ]. Sifat dasar ini yang harus kita ketahui dan kita kenal [ faktor intern ], kita tidak bisa tidak menepati permintaanya, kalau kita tidak ingin rekaman kita Under atau Over.

Setelah kita tahu besarnya Rentang Kontras Obyek dan perbedaan Stop yang terkandung didalamnya. Sekarang dengan bermodalkan data tersebut, bagaimana cara kita untuk merekamnya kedalam film. Ini merupakan pertanyaan yang sangat bagus seperti pada waktu saya belum mengenal Sistem Pengandalian Zona.

Rentang Kontras Obyek merupakan susunan stop yang terkandung didalamnya, susunan Stop tersebut merupakan sebuah tahapan Stop yang dapat dikonfersikan kedalam susunan tahapan Zona, jadi kalau kita mengetahui Rentang Kontras Obyek = kita mengetahui susunan f. Stop = kita mengetahui susunan t. stop = juga sama kita mengetahui susunan tahapan Zona yang diawali dari Zona III hingga Zona …… sampai dimana digital atau jarum LM menunjuk titik akir lacakannya.

Cukup sampai disini dulu postingannya….Untuk selanjutnya kita akan membahas ZONA… Tunggu yach.. ^_^

Sumber: Materi WORKSHOP  –> FORMAT ITN Malang

Leave a comment »

Tabel Konversi Temperatur Proses Film Hitam-Putih

�18� C �19� C �20� C
�21� C 22� C 24� C� 25� C� 26.5� C�
�5.0� �4.5� �4.0 �3.5 �3.25 �2.5 �* �*
�5.5 �5.0 �4.5 �4.0 �3.75 �3.0 �* �*
�6.0 �5.5 �5 �4.5 �4.0 �3.25 �* �*
�6.5 �6.0 �5.5 �5.0 �4.5 �3.5 �* �*
�7.25 �6.5 �6.0 �5.5 �5.0 �4.0 �3.75 �*
�8.0 �7.25 �6.5 �6.0 �5.25 �4.5 �4.0 �3.5
�8.75 �7.75 �7.0 �6.5 �5.75 �5.0 �4.5 �3.75
�9.25 �8.25 �7.5 �6.75 �6.0 �5.25 �4.75 �4.0
�9.75 �8.75 �8.0 �7.25 �6.5 �5.5 �5.0 �4.25
�10.5 �9.5 �8.5 �7.75 �7.0 �6.0 �5.5 �4.75
�11.25 �10.0 �9.0 �8.0 �7.25 �6.25 �5.75 �5.0
�11.75 �10.5 �9.5 �8.5 �7.75 �6.5 �6.0 �5.25
�12.5 �11.25 �10.0 �9.0 �8.0 �7.0 �6.25 �5.5
�13.0 �11.75 �10.5 �9.5 �8.5 �7.25 �6.5 �5.75
�13.75 �12.25 �11.0 �10.0 �9.0 �7.5 �6.75 �6.0
�14.25 �12.75 �11.5 �10.5 �9.25 �8.0 �7.25 �6.25
�14.75 �13.25 �12.0 �10.75 �9.75 �8.25 �7.5 �6.5
�15.25 �13.75 �12.5 �11.25 �10.0 �8.75 �8.0 �7.0
�16.0 �14.5 �13.0 �11.75 �10.5 �9.0 �8.25 �7.0
�16.75 �15.0 �13.5 �12.0 �11.0 �9.25 �8.5 �7.25
�17.25 �15.5 �14.0 �12.5 �11.25 �9.75 �9.0 �7.5
�17.75 �16.0 �14.5 �13.0 �11.75 �10.0 �9.25 �7.75
�18.5 �16.75 �15.0 �13.5 �12.25 �10.5 �9.5 �8.0
�19.25 �17.25 �15.5 �14.0 �12.75 �10.75 �9.75 �8.25
�19.75 �17.75 �16.0 �14.5 �13.0 �11.0 �10.0 �8.5
�20.5 �18.5 �16.5 �14.75 �13.5 �11.5 �10.25 �8.75
�21.0 �19.0 �17.0 �15.25 �13.75 �11.75 �10.5 �9.0
�21.75 �19.5 �17.5 �15.75 �14.25 �12.0 �10.75 �9.25
�22.25 �20.0 �18.0 �16.25 �14.5 �12.5 �11.25 �9.5
�22.75 �20.5 �18.5 �16.75 �15.0 �12.75 �11.5 �9.75
�23.5 �21.0 �19.0 �17.25 �15.5 �13.25 �12.0 �10.25
�24.25 �21.75 �19.5 �17.5 �16.0 �13.5 �12.25 �10.5
�24.75 �22.25 �20.0 �18.0 �16.25 �13.75 �12.5 �10.75
�25.25 �22.75 �20.5 �18.5 �16.75 �14.25 �12.75 �11.0
�26.0 �23.5 �21.0 �19.0 �17.0 �14.5 �13.0 �11.25
�26.5 �23.75 �21.5 �19.5 �17.5 �15.0 �13.5 �11.5
�27.25 �24.5 �22.0 �19.75 �17.75 �15.25 �17.75 �11.75
�27.75 �25.0 �22.5 �20.25 �18.25 �15.5 �14.0 �12.0
�28.25 �25.5 �23.0 �20.75 �18.75 �16.0 �14.5 �12.5
�28.75 �26.0 �23.5 �21.0 �19.0 �16.25 �14.75 �12.75
�29.75 �26.75 �24.0 �21.75 �19.5 �16.75 �15.0 �13.0
�30.25 �27.25 �24.5 �22.0 �19.75 �17.0 �15.25 �13.25
�30.75 �27.75 �25.0 �22.5 �20.25 �17.25 �15.5 �13.5


Tabel ini digunakan sebagai acuan jika kita ingin menaikan atau menurunkan temperatur yang biasa kita gunakan.

Contoh : Jika kita biasa memproses Film X dengan developer Y pada suhu 20� C selama 8 menit, waktu ini dapat kita konversikan untuk pemrosesan pada temperatur 24� C dengan melihat tabel diatas, akan diperoleh waktu 5.5 menit.

Catatan : waktu proses yang dianjurkan adalah lebih dari 5 menit agar diperoleh hasil yang merata.

Oleh: david hermandy

Sumber : John Placko, Ilford

Leave a comment »

C-41 untuk BW MUDAH MELAKUKANNYA

TIDAK MEMILIKI DARKROOM SENDIRI BERARTI SUSAH UNTUK PENGGUNA FILM MONO. JAWABANNYA ADALAH FILM BLACK & WHITE YANG MENGGUNAKAN C-41 PROCESSING.

Keuntungan terbesar dari film BW C-41 adalah menawarkan proses semudah fil warna. Lab jalanan manapun dapat melakukannya. Jika anda menginginkan hasil yg profesional, film ini juga dapat memberikan itu.

Pertama kita lihat keunggulan2-nya, film-film ini memiliki grain yang sangat kecil untuk kecepatan yang dimiliki. Semuanya adalah ISO 400. Memiliki tonal range yang baik, dan dari pengalaman saya, negatifnya-nya sangat mudah di cetak.

Untuk kekurangannya, karena film ini menggunakan chemical untuk warna maka tidak memiliki flexibilitas dalam proses sebagaimana yang menggunakan silver-based emulsions. Berari kita kehilangan control dalam kecepatan, grain dan contrast. BAgaimanapu, jika anda menyukai film ini, masalah tersebut dapat di tanggulangi dengan scanning dan di edit dalam photoshop.

Film2 yang biasa saya gunakan adalah XP2, kodak portra dan T400CN, serta Konica VX400.

Silahkan mencoba!

Oleh: Novemto Komo

Leave a comment »

Fotogram

Di sini saya ingin berbagi sedikit ilmu mengenai fotogram, yang saya dapatkan dalam mata kuliah fotografi I.

Fotogram adalah suatu bentuk fotografi, seni melukis dengan menggunakan cahaya, tanpa kamera. Dengan teknik fotogram, kita dapat merekam bayangan sebuah benda, objek, dengan memanipulasi sinar sehingga terbentuk bayangan benda diatas sebuah kertas/ bahan baku peka cahaya. Gradasi dari bayangan yang terbentuk bisa bermacam-macam, tergantung dari berapa lama bahan baku peka cahaya itu terekspose oleh cahaya.

Seperti yang saya katakan sebelumnya pada karya up-load fotogram saya yang pertama, proses membuat fotogram sepenuhnya manual dan dikerjakan dalam kamar gelap(dark room) dengan bahan-bahan kimia untuk proses pencetakan foto.
Kamar gelap ini dapat dibuat sendiri, bahkan untuk proses pembuatan fotogram, anda pun bisa memakai ruang mana saja di bagian rumah anda, karena toh kita hanya bereksperimen. Untuk itu saya jelaskan dahulu mengenai bagian kamar gelap.

Sebuah kamar gelap umumnya berupa sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, dengan dinding dicat gelap tanpa jendela, dimaksudkan supaya cahaya tidak dapat masuk dari luar. Agar terjadi pertukaran udara, ruangan tersebut dapat diberi ventilasi dengan exhaust fan atau AC.
Untuk pengaman bahan baku pada waktu bekerja diberi lampu pengaman(merah), sedang untuk pencahayaan umum diberi lampu biasa.

Bagan Kamar Gelap:
1. Enlarger
2. Bak bahan pengembang (developer)
3. Bak bahan penyetop (stop bath)
4. Bak bahan penetap (Fixer)
5. Air kran
6. Alat pengering film dan foto
7. Rak penyimpan bahan baku

Untuk penjelasan kamar gelap saya rasa sudah banyak artikel di majalah atau internet yang membahas, jika ingin lebih jelas bisa mail ke saya. Untuk kamar gelap saya rasa cukup, karena jika terlalu panjang membahas kamar gelap kita malah lupa sama topic utama yaitu Fotogram.

Seperti yang sudah dijelaskan diatas pengertian fotogram adalah membentuk bayangan benda yang ada di sekitar kita (daun, bulu ayam, sisir, kapas ataupun bentuk-bentuk komik) pada kertas foto.

Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat fotogram:
1. Larutan kimia/obat foto yang terdiri atas:

  • Cairan pengembang (Developer)>contoh merk: KODAK, ILFORD, SUPERBROM
  • Cairan penyetop (Stop Bath)>cuka dapur 2 atau 3 sendok makan/liter
  • Cairan penetap (Fixer)>KODAFIX, FUJIFIX, maupun ACIFIX

2. Tiga buah bak untuk obat foto
3. Kertas foto
4. Benda-benda yang akan dibentuk bayangannya
5. Untuk penggunaan enlarger dapat digantikan oleh cahaya senter

Cara pembuatan:

  1. Siapkan bahan-bahan yang akan digunakan terlebih dahulu, jangan mengeluarkan kertas foto sebelum mematikan lampu (kertas foto peka terhadap cahaya)
  2. Di dalam kamar gelap, matikan lampu penerang, dan nyalakan lampu pengaman berwarna merah.
  3. Nyalakan enlarger
  4. Atur tinggi kepala enlarger, usahakan agar seluruh luas kertas foto masuk dalam bingkai proyeksi enlarger
  5. Buat foto/test strip jika ingin memakai gradasi warna(BW) dari benda-benda tersebut
  6. Letakkan kertas foto sesuai luas bingkai proyeksi. Atur benda-benda yang akan dibentuk bayangannya diatas kertas foto.
  7. Nyalakan enlarger sesuai waktu yang digunakan pada waktu test strip, apabila hanya ingin membentuk satu bayangan, tidak perlu diulang, hanya sekali pencahayaan.
  8. Setelah itu, masukkan kertas foto tersebut ke cairan kimia foto satu per satu mulai dari developer(hingga warnanya matang/ warna hitam terlihat matang) +- 2 menit, stopbath +-10 detik, dan fixer +- 5-10menit(semakin lama semakin baik, sehingga kertas foto tidak cepat kuning) sesudah itu kertas foto di cuci di air.
  9. Proses pembutan fotogram telah selesai. Anda dapat menyalakan lampu apabila kertas foto disimpan atau ditutup dengan rapat kedap dari cahaya.

Bagi yang tidak memiliki enlarger, dapat menggunakan sinar dari senter, yang diarahkan langsung ke kertas foto, dimana benda yang ingin dibuat bayangannya telah diatur letaknya diatas kertas foto tersebut dan waktu penyinaran dapat diperkirakan sendiri. Sesudah itu proses pencetakan melalui bahan-bahan kimia yang dipergunakan sama seperti diatas.

Apabila ada yang kurang jelas dapat ditanyakan langsung kepada saya melalui email.

Penulis,
Peny pujiati

Sumber:
Modul Fotografi I
Disusun oleh Sandjaja Siswosumarto, M.Sc
Fakultas Seni Rupa dan Desain
Universitas Trisakti
Jakarta

Leave a comment »