Foto Pemandangan Hitam-Putih

Oleh Atok Sugiarto
suarapembaruan.com

Fotografi pemandangan alam secara umum selalu ditampilkan dengan penuh warna sehingga mempesona yang melihatnya. Namun demikian sesungguhnya fotografi pemandangan alam tak selalu harus disajikan secara berwarna. Karena sekalipun alam ini penuh dengan warna-warni yang demikian indah, dalam bidang seni keindahan itu bisa berarti hitam putih. Sementara generasi fotografi digital telah muncul, maju dan berkembang, fotografi warna – analog yang menggunakan film juga belum surut. Fotografi hitam putih pun seolah tetap tak mau beringsut pergi dan perlahan hilang. Bahkan kalau boleh dikatakan hingga sampai masa di mana segala sesuatu yang menyangkut keindahan selalu dikait-kaitkan dengan warna, fotografi hitam putih serasa masih banyak diminati. Tak berlebihan pula jika sekiranya memotret pemandangan alam disajikan secara hitam putih. Alasannya tak lain adalah menyangkut seni.

Dengan hitam putih bagi pengguna fotografi analog yang menggunakan film akan terbuka peluang untuk melakukan eksperimen sedalam-dalamnya. Pengguna film hitam putih juga akan sangat merasa mudah mencuci atau memproses film dan mencetaknya sendiri. Namun demikian dalam perkembangan dunia fotografi yang sudah sangat maju sehingga muncul kamera digital juga telah menyediakan menu bagi pemotretan yang ditujukan khusus bagi hitam-putih.

Berbagai kesempatan memang membuktikan bahwa fotografi hitam-putih tak pernah mati. Bahkan dalam perkembangannya fotografi hitam-putih terus diminati pelaku seni fotografi. Menyadari bahwa peminat foto hitam-putih masih sangat banyak, maka kamera digital professional juga memberikan mode hitam-putih pada pilihan penggunaannya.

Belum termasuk dalam penanganan proses kelanjutannya yang menggunakan komputer sebagai kamar gelapnya. Maka perubahan warna dari berwarna ke hitam-putih dapat dilakukan dengan amat mudah. Semua itu tentu tak terlepas dari keinginan produsen kamera untuk tetap mewadahi pengguna foto hitam-putih yang memang masih terasa banyak.

Cahaya

Memotret apa pun pastilah kita menggunakan cahaya sebagai unsur utamanya. Cahaya menerangi subjek dan memberikan rasa kedalaman serta memperkuat penampilan bentuk, selain juga mengungkapkan waktu serta memberikan “kehidupan” dalam gambar. Karena itu jika ingin menampilkan foto pemandangan secara alami, lakukan dengan mengandalkan pencahayaan saat pemotretan pada keadaan cahaya seadanya atau available light. Namun demikian pemotret berkewajiban untuk mempelajari lebih teliti keadaan cahaya yang akan dihadapi khususnya bagi pemotretan hitam-putih, sehingga tidak salah menginterprestasikan sebuah warna dalam hitam-putih.

Foto pemandangan di Indonesia selalu memberi gambaran bahwa matahari selalu beredar dengan jumlah waktu yang tetap. Dari pagi jam 06.00 hingga sore jam 18.00 sehingga menciptakan banyak kemungkinan penampilan cahaya dalam foto. Misalnya untuk menghendaki cahaya redup dan datar, kita dapat memotret pada pagi sebelum matahari terbit.

Cahaya juga memberikan pengaruh pada perasaan sebagai dampak lain dari sifat fisiknya. Hal ini tidak dapat diukur secara teknis, namun kita selalu menafsirkan perbedaan tingkat kecerahan dan kualitas cahaya dengan kesan yang berbeda-beda. Sehingga cahaya lemah bermakna kesan suram, lembut dan gambar tidak dapat tampil dengan ketajaman yang optimal – warna-warna tidak dapat tampil cemerlang dengan kontras yang rendah.

Karena sifat-sifatnya itulah kita sebagai pemotret harus hati-hati memilihnya dan mengendalikan cahaya yang menerangi subjek khususnya pada foto pemandangan yang akan dibuat secara hitam putih. Sehingga mampu menghasilkan foto yang sesuai karakter yang dikehendaki dalam pemotretan.

Peralatan

Tak terlampau sulit untuk mendapatkan foto tentang pemandangan secara hitam putih yang baik. Karena itu agar dapat menangkap dan menghasilkan foto tentang keindahan suatu pemandangan, yang paling praktis disarankan menggunakan kamera SLR (analog maupun digital) 35mm dengan sebuah lensa zoom, wide hingga tele (18-70 mm) atau tele menengah hingga yang panjang (70-210 mm).

Yang perlu dicatat bahwa foto tentang pemandangan itu tidak selalu identik dengan foto yang harus diambil dengan menggunakan lensa sudut lebar untuk menangkap area yang luas saja, melainkan juga bisa dengan lensa tele untuk detail dan sesuatu yang lebih khas. Bedanya, bila menggunakan lensa sudut lebar, pemotret harus bisa memastikan bahwa pemandangan yang akan kita foto memiliki latar depan (foreground) yang menarik seperti bunga-bunga, bebatuan yang artistik, siluet, refleksi atau bayangan pepohonan untuk menciptakan kesan tiga dimensi yang kuat.

Sedang bila menggunakan lensa tele panjang, pemandangan yang akan dipotret bisa menggambarkan secara khas tentang detail suatu objek yang menjadi ciri khas tempat atau daerah itu sehingga menghasilkan foto khas dan menarik karena sentuhan dan sajian yang berbeda.

Menggunakan kamera dengan lensa-lensa yang bisa mencakup berbagai sudut pandang juga belumlah cukup untuk menghasilkan foto tentang pemandangan hitam putih yang baik, karena masih diperlukan kelengkapan seperti misalnya filter polarisasi (PL), neutral density (ND) atau filter merah.

Filter polarisasi (PL) sangat berguna untuk mengurangi refleksi selain lebih sering digunakan untuk menggelapkan langit dan menghitamkan dedaunan, filter merah untuk memperkuat sunset (matahari terbenam) dan sunrise (matahari terbit), filter ND berguna untuk memperkecil perbedaan kekuatan sinar antara langit dengan bagian bawah foto, sehingga keadaannya terekam normal dari segi pencahayaan.

Perlengkapan tripod atau kaki tiga kamera juga sangat diperlukan, terutama untuk memotret pemandangan saat matahari terbenam atau matahari terbit di mana memotretnya harus dilakukan dengan menggunakan kecepatan bukaan rana rendah. Namun demikian jika anda tergolong seseorang yang senang bepergian dengan menggunakan kamera saku, juga tak perlu berkecil hati jika ingin memotret dan merekam keindahan pemandangan yang dilihat. Karena dengan kamera saku – khususnya kamera saku digital juga dapat menghasilkan foto pemandangan hitam putih yang indah dengan mudah.

Fasilitas-fasilitas yang komplit dalam software dapat membantu menciptakan foto-foto pemandangan yang biasa menjadi luar biasa, karena dapat dimanipulasi dengan memanfaatkan fasilitas komputer. Asal mahir mengoperasikan komputer, setidaknya untuk dapat menghasilkan foto pemandangan yang baik dan menarik dengan kamera saku digital sudah bukan persoalan. Bahkan seolah tak perlu menjadi seorang professional untuk dapat menghasilkan foto pemandangan yang baik.

Saran

Namun demikian untuk mendapatkan foto pemandangan hitam putih yang baik ada beberapa saran yang selayaknya jadi pegangan antara lain:

1. Komposisi. Persoalan komposisi harus ditentukan secara hati-hati. Karena itu perhatikan latar depan, latar belakang, perspektif dan horizon, dengan pembagian ruang yang harmonis saat melakukan pemotretan.

2. Cahaya. Cahaya yang baik untuk kebutuhan foto pemandangan adalah cahaya alam sesaat matahari terbit atau sebelum matahari terbenam, hal itu karena bayangan terentang panjang sehingga menjadikan langit tampak bersinar. Karena itu dianjurkan untuk tidak terlalu terburu-buru dalam melakukan pemotretan pemandangan, sebaliknya untuk selalu bersabar menunggu atau menanti cahaya matahari terbaik, sehingga tercapai suatu foto dengan penyinaran yang baik.

3. Karakter. Arah cahaya dari samping yang dihasilkan oleh matahari pagi atau sore menghasilkan tekstur dengan karakter yang khas. Karena itu pilihlah keadaan dengan memadukan objek dan karakteristik yang sesuai dengan kondisi cahaya.

4. Pembingkaian. Lakukan pembingkaian dengan terlebih dahulu mempelajari suatu keadaan sehingga bisa memilih sesuatu apakah itu batang pohon kering, dedaunan, bangunan, bukit untuk memperkuat foto dengan memanfaatkannya sebagai foreground atau latar depan.

5. Diafragma. Sebaiknya gunakan pemakaian diafragma kecil sehingga didapatkan hasil foto dengan ketajaman yang luas – dari latar depan hingga latar belakang tampak tajam semua. Seperti yang juga harus dilakukan jika menggunakan lensa sudut lebar untuk memperbesar jarak antara yang dekat dengan yang jauh.

6. Cakrawala. Biasakan memainkan peran cakrawala dengan menempatkan pada bagian bawah bila ingin menonjolkan bagian atas. Misalnya langit yang luas menawan, cakrawala yang tinggi. Atau menempatkan pada bagian atas bila menonjolkan bagian bawah foto yang menarik sekaligus untuk menerangkan sudut pemotretan dari ketinggian.

7. Imajinasi. Biasakan juga melatih imajinasi dengan tidak terpaku pada aspek realita dari pemandangan yang bebas, bukit, bangunan, pepohonan tapi juga bisa melakukan dan mencari objek-objek yang abstrak, misalnya langit yang terpantul dari kubangan air, garis-garis pagar yang seirama, refleksi sebuah gedung dan lain-lain.

8. Alam. Manfaatkan segala seuatu yang berhubungan dengan alam, seperti keadaan cuaca, angin puyuh, mendung, hujan salju dan sebagainya karena semua itu bisa mempengaruhi emosi yang kuat bagi terciptanya sebuah foto pemandangan yang artistik.

Dengan peralatan memadai dan perencanaan yang baik, memotret pemandangan hitam-putih sesuai yang diperkirakan akan sangat mungkin menjadi kenyataan. Hal itu tentu akan terjawab dan tergambar pada foto bila kita sendiri mencintai pemandangan alam, karena sesungguhnya selalu ada sesuatu yang indah yang dikeluarkan oleh alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: